Buku : Kenapa Guru Harus Kreatif

Kebetulan saat saya sedang mencari buku, saya melihat buku yang satu ini. Judulnya 'Kenapa Guru Harus Kreatif'. Mungkin teman-teman ada yang pernah membacanya. Buku yang ditulis oleh Andi Yudha Asfandiyar ini diterbitkan oleh Penerbit DAR! Mizan pada tahun 2009. Isinya bercerita tentang cara-cara bagaimana menjadi seorang guru yang kreatif dan profesional. Berikut sepotong tulisan dari buku ini.


Orang sering mengira bahwa tugas seorang guru hanyalah mengeja huruf dan menghitung angka. Kelihatannya sederhana...
Sederhana?
Namun, pada praktiknya tidak sesederhana itu. Sebagai lapis kedua setelah keluarga dalam perannya mendidik anak, guru mempunyai peran yang sangat besar dalam tumbuh-kembang seorang anak. Keberhasilan seorang anak saat dewasa apakah dia akan menjadi orang yang baik atau jahat, pintar atau bodoh, sukses atau gagal, dipengaruhi oleh didikan guru mereka, selain didikan keluarga dan pengaruh lingkungannya.
Secara formal, menurut Undang-Undang No. 141 Tahun 2005, pasal 1, butir 1 tentang guru dan dosen, "Yang disebut dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah."
Namun, pada dasarnya, setiap orang adalah guru, contoh yang digugu dan ditiru, terutama oleh anak-anak yang sering meniru apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya.
Biasanya, anak-anak usia dini menerapkan apa yang mereka lihat, mereka dengar, dan mereka rasakan dari lingkungannya. Apa yang telah mereka dapatkan ketika masih kecil akan berbekas sangat kuat hingga mereka dewasa. Oleh karena itu, orang dewasa yang dijadikan contoh oleh mereka, haruslah pintar-pintar dalam menjaga perilakunya sehingga dia bisa menjadi contoh yang positif bagi anak-anak.
Lihatlah, betapa anak-anak sekarang berusaha meniru apa yang mereka lihat dari artis-artis dan tayangan televisi, meskipun tidak jarang, semua yang mereka serap berdampak negatif bagi perkembangan mental mereka.
Sekolah sebagai salah satu kekuatan besar dalam menciptakan agen perubahan perlu ditangani oleh guru-guru yang andal. Sekolah memerlukan guru yang berkualitas, profesional, dan mempunyai visi yang jauh akan perkembangan sumber daya manusia yang akan datang. Mereka pun akan menjadi manusia-manusia berkualitas, unggul, dan berdaya tahan tinggi dalam menghadapi perubahan. Anak-anak adalah calon pewaris bangsanya. Dalam proses transfering values and knowledge, guru yang baik akan senantiasa mengajar dan berkomunikasi kepada anak-anak, dan bukan sekadar berkomunikasi terhadap mereka.
Lalu, bagaimana ciri-ciri guru yang kreatif dan profesional itu?
Kuncinya yaitu FOR CHILDREN.
1.      Fleksibel
Dibutuhkan guru yang tidak kaku, luwes, dan dapat memahami kondisi anak didik, memahami cara belajar mereka, serta mampu mendekati anak didik melalui berbagai cara sesuai kecerdasan dan potensi masing-masing anak.
2.      Optimistis
Keyakinan yang tinggi akan kemampuan pribadi dan keyakinan akan perubahan anak didik kea rah yang lebih baik melalui proses interaksi guru-murid yang fun akan menumbuhkan karakter yang sama terhadap anak tersebut.
3.      Respek
Rasa hormat yang senantiasa ditumbuhkan di depan anak didik akan dapat memicu dan memacu mereka untuk lebih cepat tidak sekadar memahami pelajaran, namun juga pemahaman yang menyeluruh tentang berbagai hal yang dipelajarinya.
4.      Cekatan
Anak-anak berkarakter dinamis, aktif, eksploratif, ekspresif, kreatif, dan penuh inisiatif. Kondisi ini perlu diimbangi oleh anda sebagai pengajarnya sehingga anda mampu bertindak sesuai kondisi yang ada.
5.      Humoris
Menjadi guru killer? Anak-anak malah takut kepada anda dan tidak mau belajar. Meskipun setiap orang mempunyai sifat humoris, sifat ini dituntut untuk dimiliki seorang pengajar. Karena pada umumnya, anak-anak suka sekali dengan proses belajar yang menyenangkan, termasuk dibumbui dengan humor. Secara tidak langsung, hal tersebut dapat membantu mengaktifkan kinerja otak kanan mereka.
6.      Inspiratif
Meskipun ada panduan kurikulum yang mengharuskan semua peserta didik mengikutinya, guru harus menemukan banyak ide dari hal-hal baru yang positif di luar kurikulum. Ia dapat membuat anak didik terinspirasi untuk menemukan hal-hal baru dan lebih memahami informasi-informasi pengetahuan yang disampaikan gurunya.
7.      Lembut
Dimanapun, guru yang bersikap kasar, kaku, atau emosional, biasanya mengakibatkan dampak buruk bagi peserta didiknya, dan sering tidak berhasil dalam proses mengajar kepada anak didik. Pengaruh kesabaran, kelembutan, dan rasa kasih sayang akan lebih efektif dalam proses belajar-mengajar dan lebih memudahkan munculnya solusi atas berbagai masalah yang muncul.
8.      Disiplin
Disiplin disini tidak hanya soal ketepatan waktu, tapi mencakup berbagai hal lain. Sehingga, guru mampu menjadi teladan kedisiplinan tanpa harus sering mengatakan tentang pentingnya disiplin. Contoh, disiplin dalam waktu, menyimpan barang, belajar, dan sebagainya. Dengan demikian, akan timbul pemahaman yang kuat pada anak didik tentang pentingnya hidup disiplin.
9.      Responsif
Ciri guru yang profesional, antara lain cepat tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, baik pada anak didik, budaya, sosial, ilmu pengetahuan maupun teknologi, dan lain-lain.
10.  Empatik
Setiap anak mempunyai karakter yang berbeda-beda, cara belajar dan proses penerimaan, serta pemahaman terhadap pelajaran pun berbeda-beda. Oleh karena itu, seorang guru dituntut mempunyai kesabaran lebih dalam memahami keberagaman tersebut sehingga bisa lebih memahami kebutuhan-kebutuhan belajar mereka.
11.  Nge-friend
Jangan membuat jarak yang lebar dengan anak didik hanya karena posisi anda sebagai guru. Jika kita dapat menjadi teman mereka akan menghasilkan emosi yang lebih kuat daripada sekadar hubungan guru-murid. Sehingga, anak-anak akan lebih mudah beradaptasi dalam menerima pelajaran dan bersosialisasi dengan lingkungannya.

Bagaimana? Menarik bukan? Dari judulnya saja sudah membuat saya tertarik untuk membacanya. Seorang guru itu ternyata tugasnya bukan hanya mengajar, tapi juga harus mendidik anak didiknya melalui berbagai macam pendekatan yang sesuai dengan karakter masing-masing anak agar kelak mereka bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang-orang sekitarnya. Jadi, guru harus bisa memahami karakter setiap anak didiknya. Mengajarnya pun harus dari hati ke hati agar anak dapat memahami dengan baik apa yang disampaikan guru.

Not only teach, but also touch! Bukan hanya mengajar, melainkan juga menyentuh hati mereka. ^_^

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Khayalanku tentang Matahari dan Bulan

Hari mulai gelap
Matahari kelelahan
Ia ingin rehat sejenak
Setelah berjam-jam menerangi bumi

Ia yang begitu tinggi di atas sana
Menerangi angkasa saat siang hari
Perlahan mulai turun
Cahayanya semakin redup

“Aku sudah tak kuat,” begitu katanya
Ia terlihat semakin lemah
Dengan memelas ia pun berkata,
“Siapa saja, tolong gantikan aku”

Tiba-tiba dari arah berlawanan muncul suatu benda langit
“Wahai, matahari, akulah bulan.
Aku yang akan menerangi bumi di malam hari.
Kau pulanglah, pulihkan tenagamu untuk esok hari.”

Matahari begitu senang mendengarnya
“Baiklah, bulan, aku minta kau untuk menjaga bumi agar tetap terang.”
Matahari pun terbenam
Ia kembali ke persembunyiannya

Keesokan harinya matahari telah kembali segar
Cahayanya pun bersinar terang
Ia segera menggantikan tempat bulan di langit untuk menerangi bumi

“Terimakasih, bulan, berkatmu aku bisa beristirahat.
Tanpa membuat bumi gelap.”
Bulan pun menjawab,
“Tak masalah, matahari, aku senang bisa membantumu.
Sampai alam semesta ini hancur pun aku akan menerangi malam di bumi.”

Matahari merasa senang
Karena setiap malam ia dapat beristirahat, mengumpulkan cahayanya
Dan sejak itulah pergantian matahari dan bulan dimulai
Siang dan malam terus berganti tanpa gelap yang pekat
“Sungguh kerjasama yang mengagumkan,” gumam bumi dalam diam

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0