Love is . . . .
Note
14072013
"aku bersamanya
tapi ia masih mengharapkan dia
jadi, untuk apa keberadaanku?"
15072013
"aku tidak mudah percaya pada orang lain
aku hanya percaya pada beberapa orang saja
dan kamu salah satunya
aku pernah berkata,
'jangan sia-siakan kepercayaan yang sudah aku berikan untuk kamu'
tapi nyatanya?
apa kamu tau?
susah payah aku untuk percaya kamu
tapi diam-diam kamu masih mengharapkannya
sakit rasanya
lalu untuk apa aku ada untukmu?
jangan salahkan aku kalau sikapku tak sama lagi
Posko KKN Sindanglaya - Subang
It's Love - SunYeon
Menolong dan Ditolong
So, janganlah mengharapkan balasan dari apa yang kita lakukan karena apapun yang kita lakukan, baik atau buruk, sudah pasti akan mendapat balasan ;)
Standar Kompetensi Guru
- Kompetensi Pedagogis, yaitu kompetensi guru yang berkaitan dengan penguasaan materi tentang teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik. Tak ada alasan bagi seorang guru untuk berhenti belajar.
- Kompetensi Kepribadian. Seorang guru harus memiliki kepribadian yang baik, mulai dari bertutur kata santun, berkata jujur, disiplin, dan sikap baik lainnya. Kepribadian yang baik ini sangat diperlukan karena seorang guru adalah sosok yang akan digugu dan ditiru oleh anak didiknya.
- Kompetensi Sosial. Seorang guru sejatinya dapat bersosialisasi dengan baik, dan dapat menjadi teladan atau contoh yang baik di tengah-tengah masyarakat, karena beberapa kalangan masyarakat masih beranggapan bahwa guru adalah sosok yang perlu dihormati dan disegani.
- Kompetensi Profesional. Guru yang profesional adalah guru yang mampu melaksanakan pembelajaran mulai dari merencanakan pembelajaran, membuat strategi, menerapkan metode, menggunakan media, mengevaluasi, mengobservasi, dan melakukan perbaikan pada setiap kekurangan yang ada dalam proses pembelajaran.
23 Feb 2013
Tak terasa sekarang aku sudah memasuki semester 6. Itu artinya 1 tahun lagi aku akan sidang skripsi lalu wisuda dan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Doakan saja agar semuanya berjalan dengan lancar =)
Mengapa aku memilih menjadi guru, ada alasan tersendiri. Yang paling utama adalah karena aku ingin menjadi seperti guruku di SD. Bisa dikatakan beliau adalah guru paling bijak di SD-ku. Temanku mungkin tau bahwa aku ini anak yang pendiam. Hanya beberapa orang saja yang mau berteman denganku. Guru-guru pun kadang bersikap tak acuh padaku. Padahal aku sudah berusaha untuk diakui oleh mereka dengan cara belajar giat dan selalu mendapatkan juara 3 besar. Sedih? Pasti. Tapi untungnya aku punya keluarga yang selalu bangga padaku.
Guru yang aku kagumi ini mengajarku di kelas 4. Ada yang beda dengan guru yang satu ini. Beliau selalu ramah pada semua murid, bahkan tak pernah lupa untuk menyapaku setiap di kelas. Setiap pembelajaran di kelas, aku agak diberi perhatian khusus karena pasifnya aku. Di saat kelulusan beliau berkata padaku, "Kamu itu pintar, kamu pasti bisa sukses, diamnya kamu itu hanya sebuah ciri khas yang membedakanmu dari yang lain. Selamat berjuang ya, semoga sukses". Aku terharu tapi aku tak mau menangis, kuberikan senyum manisku pada beliau.
Beliaulah orang pertama yang menginspirasiku. Aku ingin menjadi guru, yang bisa berkenan di hati murid-muridku dan bisa terus berbagi ilmu seumur hidupku. Hanya saja, aku terlalu sulit untuk bersosialisasi. Dengan teman-temanku saja sulit, apalagi dengan anak didik yang membutuhkan seorang guru yang bisa membuat mereka nyaman. Aku kembali berpikir, apakah aku bisa? Nyatanya aku sudah lebih dari setengah jalan, hampir sampai pada tujuan, jadi aku harus bisa. Seseorang pernah berkata, "Mengajar itu tak hanya membutuhkan otak yang pintar, tapi juga membutuhkan ketulusan agar apa yang kita sampaikan pada anak didik kita dapat melekat di hati mereka".
Sekarang aku harus belajar untuk tulus dalam melakukan sesuatu. Apapun kelemahan yang ada dalam diriku, semoga nantinya akan menjadi suatu kelebihan. =)
Love = Waiting for a Bus
Cinta itu sama seperti orang yang sedang menunggu bis
Sebuah bis datang, dan kamu bilang,
"Wah..terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman nih! Aku tunggu bis berikutnya aja deh."
Kemudian, bis berikutnya datang.
Kamu melihatnya dan berkata,
"Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi, nggak mau ah."
Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.
Bis keempat berhenti di depan kamu.
Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,
"Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku".
Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.
Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.
Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.
Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis.
Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju!
Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.
Moral dari cerita ini :
Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal' untuk menjadi pasangan hidupnya.
Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita.
Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia. Tidak ada salahnya memiliki 'persyaratan' untuk 'calon', tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita.
Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju.
Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat, tapi kamu masih bisa berteriak 'Kiri!' dan keluar dengan sopan.
Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu.
Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.
Cerita ini juga berarti, kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya.
Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti.
Bagimu sendiri, dan bagi dia.
Lalu bis seperti apa yang kamu tunggu? :-)
Source : Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci
Sejarah Masuk Kuliah
Tepat pada tahun 2010 aku telah mengambil sebuah keputusan yang akan menentukan masa depanku nantinya. Pemilihan Perguruan Tinggi. Hal yang paling kubenci adalah saat aku harus memilih salah satu di antara begitu banyak pilihan yang memang bagus. Tapi seperti yang orang lain katakan, "Life is Choice". Hidup adalah pilihan, bukan kehidupan namanya jika tak memilih.
Tuhan, Sadarkan Aku
Tuhan, sadarkan aku
bahwa seharusnya aku bahagia melihat orang lain bahagia
Tuhan, sadarkan aku
bahwa iri hati bukanlah sikap yang tepat saat melihat orang lain bahagia
Tuhan, sadarkan aku
bahwa iri hati hanya membuang-buang waktuku
Tuhan, sadarkan aku
bahwa masih banyak hal yang bisa kulakukan
janganlah terus memelihara rasa iri dalam hati
Tuhan, sadarkan aku
bahwa diluar sana banyak sekali orang yang kurang beruntung
dan aku lebih beruntung dari mereka
Tuhan, sadarkan aku
bahwa aku juga punya banyak impian dan aku harus berjuang untuk mewujudkannya
dan Tuhan, yakinkan aku
bahwa aku bisa melakukan semua itu






